Minggu, 25 Desember 2016

ULASAN WAYANG KAMPUNG SEBELAH



MAWAS DIRI MENAKAR BERANI


Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dengan dalang Ki Slideng Suparman digelar di gedung Balairung pada tanggal 20 Oktober 2015. Pertunjukan dibuka dengan sambutan dari ketua YPLP dan Rektor UPGRIS.  Diawali dengan burung garuda yang berterbangan membuka pertunjukan wayang digedung Balairung dengan sangat meriah. Dilanjutkan dengan goyang seorang yang bernama catdul di iringi musik yang membuat ruangan balairung menjadi berbahagia.
Desa balungjiwo sedang beramai dengan kampanye pemilihan lurah. Salah satu calon lurah yaitu Pak klungsur berumur 49, putra daerah Bangunjiwo. Pidato yang di sampaikan kepada para rakyat saat berkampanye sangat membara dan menjanjikan untuk menjadi lurah. Dengan misi membangun desa menjadi desa yang smart dan sejahtera. Pemilihan yang dilakukan dengan cara pemilu mengharapkan muncul seorang pemimpin yang diharapkan masyarakat dan dipercaya dapat membangun masyarakat. Penghitungan dengan menggunakan blabak(papan tulis). Namun ternyata blabaknya hilang, sehingga hansip yang bertugas menjaga keamanan ditegur dan dimarahi. Hansip  tidak terima dikatakan tidak bertanggungjawab karena dia sudah merasa menjadi hansip  yang bertanggungjawab dan menjalankan tugas dengan benar. Sehingga terjadi perselisihan diantara mereka. Saat kejadian tersebut datanglah seorang hansip lain yang ternyata mengaku membawa blabak tersebut dengan maksut menyimpan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam hal ini dapat kita ambil pembelajaran bahwa kita tidak boleh memfitnah meskipun yang melakukan orang tua kepada yang lebih muda, atau orang yang mempunyai jabatan tinggi kepada yang lebih rendah. Demokrasi tidak untuk di hitung tapi di dengarkan salah seorang berbicara. Kemudian hansip memberikan hasil penghitungan kepada ketua panitia, dan pemenangya adalah yang mempunyai gambar atau lambang iwak koyor dengan skor pemilu 700  suara  atas nama bapak somad.
Ketua panitia memberikan ucapan terimakasih sekaligus menandatangani pada berita acara bahwa pemenang pemilu dan yang berhak menjadi pemilu adalah pak somad dari hasil penghitungan suara.  Atas kemenangannya pak somad memberikan bonus kepada para tim yang telah membantu mensukseskan pemilu. Pak somad memberi bonus 30 juta, kemudian Sebesar 30 juta diberikan kepada bawahannya lagi dengan mengucapkan hanya diberikan senilai 3 juta dan mengatakan kepada bawahannya lagi hanya diberikan 300 ribu rupiah. Memang seperti inilah kehidupan politik saat ini. Meskipun ada yang baik itu hanya berapa persen dari sekian persen. Sehingga kita sebagai rakyat harus benar-benar jeli dalam memilih calon pemimpin yang baik, jangan dilihat dari nyeketewuni tapi lihatlah dari kredibilitasnya.
Dunia merupakan kisah sandiwara bagi para manusia. Fakir miskin di pelihara oleh negara supaya tetap lestari.  Makanya kita ini sudah keliru dalam memilih pemimpin yang tidak berdasarkan pada pancasila. Sejuta manusia tidak hafal pancasila tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah seorang pemimpin yang tidak bisa mengerti arti  pancasila. Oleh karena itu dibulan bahasa kita merayakan bersama-sama dan memeriahkannya. Sehingga benar-benar dapat menjadi manusia yang unggul berkarakter dan berjatidiri.
Bapak somad selaku ketua lurah menggelar tasyakuran dari artis lokal maupun intern lokal dengan artis yang pertama bongkomari mari menyanyikan lagu sahabat. Di lanjutkan dengan lagu kedua oleh syahmarni dengan judul pusing pala barbie yang sepertinya benar2 berhasil membuat para penonton pusing 7 keliling dengan goyanganya yang aduhai.  Selanjutnya artis luar negeri bobmarna dari purbalingga dengan judul syaidan.  Dan lagu selanjutanya dari minul dara tinggi dengan judul liku-liku. Kesemuanya lagu yang dinyanyikan dari para artis lokal maupun inter lokal membuat para penonton terhibur. Membuat hati yang galau menjadi terobati.
Bapak Somad dicopot dari jabatannya sebagai lurah, karena dianggap belum bisa melaksanakan amanat rakyat. Belum bisa menjadi pejabat yang diharapkan dan sudah banyak melakukan kecurangan serta tidak dapat menjaga amanat rakyat. Contoh kesalahan bapak somad selain melakukan suap menyuap juga tidak dapat mengendalikan tawuran masyarakat. Tawur masyarakat tidak hanya dilakukan dengan cara pidato namun juga menggunakan cara yang tegas dan keras sehingga masyarakat menjadi jeli. Selain itu juga perlu penanaman nilai agama. Sehingga agama tidak boleh ikutserta dalam hal politik. Jika agama yang dianggap suci dibawa ke ranah politk. Lalu siapa yang akan mensucikan kalau agama saja dibawa ke hal yang kotor ? Kita harus mawas diri, memperbaiki, merenungkan dan bangkit menjadi bangsa yang besar, tercapai cita-cita menjadi Indonesia emas. Sebab jika tidak segera sadar maka jangan tunggu lama, besok atau 5 tahun yang akan datang Indonesia akan bubar

TEATER



                                         MENGANCAM KENANGAN


Teater drama yang disuguhkan oleh teater Tikar ,Kamis, 8 Oktober 2015 membantu memeriahkan Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober. Teater tikar ini disambut hangat oleh para penonton  di Gedung Pusat lantai 7 IKIP PGRI Semarang. Teater drama dengan judul “Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara seolah-olah mengajarkan kepada para penonton untuk menghadapi kenangan yang hadir setiap saat dalam kehidupan kita.
Desain panggung yang begitu elegan, dengan menghadirkan beberapa setting seperti kamar mandi dan ruang tamu, telah membantu menciptakan suasana . Begitu  juga dengan debu dan pigura yang telah membantu menghidupkan suasana bak nyata adanya. Mereka berusaha untuk memberikan pementasan terbaik kepada para penonton.
Pementasan drama dengan desain panggung yang  di lilit benang-benang menghiasi panggung seperti keadaan yang mengerikan. Dan juga make up para pemeran yang begitu antusias dengan mata dihias hitam pada bagian pinggirnya dan juga gerakan gerakan yang kaku seperti memerankan adegan yang mengerikan layaknya film hantu. Sehingga para penonton terhipnotis dengan adegan-adegan yang terjadi. Para penoton berfikir bahwa kenangan merupakan hal yang sangat  mengerikan.
Jika pada umumnya kita selalu berdamai dengan kenangan, kali ini sutradara mengajak kita untuk mengancam kenangan, agar kita dapat memosisikan kenangan-kenangan tersebut secara tepat. Hal ini dirasa benar karena kita tidak seharusnya dikendalikan oleh kenangan,namun kitalah sebagai pemegang kenangan dan yang berhak mengendalikan. Manusia  yang hebat adalah manusia yang  mampu mengendalikan diri baik nafsu maupun kenangan sekalipun. Teater drama dengan lima pemeran diantaranya 3 orang laki-laki dan 2 perempuan berhasil memerankan dengan maksimal. Para pemeran seolah-olah memberitahu penonton bahwa kenangan tidak hanya milik manusia, tetapi seluruh makhluk hidup bahkan benda mati sekalipun. Kali ini debu, pigura, dan bak mandi memiliki kenangan sebagai saksi hidup manusia dalam pementasan teater drama ini.
Setiap orang mempunyai kenangan dan bagaimana seseorang menghadapi kenangan tersebut .”Biarkan saja rindu ini menggunung, lalu kau dapat mendakinya hingga awan dan meretaskan hujan keresahan”. Kenangan itu tidak dapat hilang maka biarlah berjalan lurus hingga tiba pada puncaknya untuk siap ditinggalkan. Terkadang memang seperti itu,ketika kita berusaha untuk melupakan justru akan terasa sulit dan bahkan menambah kepedihan.
Tepuk tangan yang meriah juga terdengar dari salah satu pemeran yang ternyata tidak hanya jago dalam bermain peran tetapi juga mempunyai suara emas dalam bernyanyi. Namun kebanyakan dari penonton terdiam mendengarkan halunan nyanyian yang terdengar menyedihkan dan menyayat luka. Suara bacaan puisi juga memberi kesan tersendiri dalam jalannya acara.
Dalam cerita ini kita benar-benar dibukakan mata bahwa kenangan tak bisa terhenti meski kita menyembunyikan sedalam mungkin, menutupi serapat mungkin, namun ia akan tetap hadir dimanapun ia berada. Sesuka yang ia mau.” Semua bermula namun tidak pernah tahu kapan akhirnya”. Ya begitulah kenangan. Selalu membayangi dalam segala aktivitas hidup. Mau tidak mau. Sadar tidak sadar. Kita tidak akan tahu kapan kanangan itu dapat berhenti membayangi dan tidak tahu cara untuk menghentikannya.
Kisah mengancam kenangan ini layaknya seperti cerita dongeng. Semua tergambar layaknya seperti makhluk hidup. Padahal pada kanyataanya benda-benda yang dia anggap hidup tersebut tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan apa-apa yang telah menyentuhnya. Debu memang selalu ada dalam kehidupan kita. Selalu menempel tanpa kita meminta dan pergi jika kita telah mengusirnya. Namun meskipun begitu ia tetap tahu apa yang kita lakukan apa yang kita perbuat. Meskipun hanya benda mati yang tak juga mempunyai mata. Yang hanya bisa menjadi saksi bisu dengan apa yang kita lakukan di dunia. Banyak penonton yang sulit memahami awal dari cerita tersebut. Ketika debu-debu tersebut diperagakan layaknya manusia. Sungguh tak menyangka ketika diujung acara bahwa manusia-manusia itu adalah debu yang membantu nyonya untuk mengingat-ingat kenangan dalam hidupnya. Ketika di ujung acara sutradara menceritakan kembali. Sungguh kebanyakan dari kita baru menyadarinya. Sungguh sutradar telah berhasil membuat para penonton berpikir keras untuk bagaimana menangkap jalannya cerita dengan benar.
 Dalam cerita ini juga menceritakan bahwa seorang ibu yang tidak terbuka dengan anak-anaknya. Seorang ibu yang hanya menyembunyikan kesedihannya. Mengadu pada pagi dan menumpakan tangisnya pada malam yang itu tentu akan sia-sia, karena tidak ada solusi yang bisa menenangkan. Mengapa dengan anak pun tidak dapat mengatakannya? Padahal, bukankah menyembunyikan hanya akan menambahi beban jiwa? kita tentu sebagai manusia tidak bisa seperti itu,apalagi seorang wanita. Pada hakikatnya seorang wanita dikatakan normal apabila berbicara melebihi lebih dari ratusan kata setiap harinya.
Apakah dalam kehidupan nyata penonton juga seperti itu ? Bukankah itu hanya akan menjadi sesuatu yang menyedihkan ? Mengapa tidak kita ceritakan pada orang yang kita percaya yang dapat memberi solusi. Mengapa tidak mencoba mencari jalan terbaik untuk tidak selalu mengingat kenangan yang itu hanya akan menyakitkan. Kenangan memang tak seharusnya kita lupakan. Tapi kita harus dapat memilih kenangan mana yang pantas untuk kita abadikan dan kenangan mana yang seharusnya untuk kita buang . Kenangan yang ketika kita mengingatnya akan membawa kebahagiakan tersendiri, kepuasan dan ketenangan pikiran. Bukan kenangan yang ketika kita mengingatnya justru membawa kehancuran diri, keresahan hati, dan bahkan merusak alat indra kita. Mata yang seharusnya digunakan untuk melihat kenyataan hanya dapat melihat bayangan, hidung yang digunakan untuk penciuman hanya digunakan untuk mencium aroma kenangan. Dan begitulah kenangan membuat kita semakin buruk jika itu memang kenangan yang memang tak pantas untuk dikenang.
Masih teringat jelas bahwa penonton menjerit histeris saat seorang laki-laki tega membunuh kekasih. Orang yang dicintai. Memilih mengancam kenangan dengan cara yang ia mau adalah cara terbaik baginya. Membuang, menyingkirkan mungkin baginya bisa melupakan segalanya ? Namun, tidakkah ia sadar bahwa itu hanya akan menghabiskan tenaga waktu dan pikiran ? Seperti bacaan di atas bahwa ia tega membunuh bayangan kekasihnya dengan menggunakan pisau dan melakukannya berulang-ulang.
Sepertinya sutradara berhasil membuat cerita “Mengancam Kenangan” menjadi cerita yang memberikan kita gambaran bahwa kita harus melawan bahkan mengancam kenangan ,sehingga kita dapat memposisikan kenangan tersebut dengan benar. Ya dan harus karena kitalah sebagai manusia yang berhak melakukannya.

ULASAN FILM SOEKARNO



SOEKARNO

Pertunjukan film yang diselengarakan di gedung Balairung di sambut meriah oleh para penonton.  Khususnya para mahasiswa dan dosen untuk mengenal sekilas kisah tentang kehidupan Soekarno. Sosok pahlawan yang sangat disegani oleh para kaula muda. Inspirasi anak bangsa untuk terus mengembangkan Indonesia melalui perjuangan-perjuangannya dalam memerdekakan Indonesia dan melepaskan diri dari para penjajah.
Awal pertunjukan dimulai dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Hal tersebut disambut dengan sangat antusias oleh para penonton. Film berjudul Soekarno yang  di sutradarai oleh Hanung Bramantyo ini tentu tidak dapat diragukan lagi ceritanya.  Sangat menginspirasi sekaligus membangkitkan semangat gelora bung Karno di kalangan anak muda zaman sekarang. Perlu dijadikan figur sehingga di harapkan akan muncul Soekarno Soekarno selanjutnya. Film berdurasi 2,5 jam ini memberikan suntikan semangat kepada para penonton khususnya kepada para penggemar.
Sewaktu kecil Soekarno dipanggil dengan sebutan Kusno, namun karena sakit-sakitan maka nama Kusno diganti dengan dengan Soekarno yang populer kita kenal di masyarakat Indonesia. Menurut tradisi,bahwa perlu ada penggantian nama ketika seorang anak sering sakit-sakitan. Hal tersebut dianggap bahwa nama pemberian tersebut kurang tepat, sehingga perlu adanya perubahan nama.
Dalam kisah Soekarno dijelaskan juga bahwa dalam masa remajanya, Soekarno telah menyukai seorang anak Belanda yang ayahnya adalah pemimpin kolonialisme. Sehingga cinta antara Soekarno dengan anak Belanda tersebut tidak mendapat persetujuan. Soekarno lebih memilih untuk menjadi bagian dari Indonesia daripada memilih untuk mengikuti aliran kolonialime. Saat itu diusianya yang masih remaja,Soekarno telah memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat. Ia tidak ingin negara indonesia yang saat itu masih dalam kawasan belanda,  harus terus-terus menderita.  Indonesia adalah milik kita kenapa kita harus sengsara ? Mengapa kita harus kelaparan sedangkan mereka para penjajah bisa menikmati dengan seenaknya ? Gelora bung karno di usia yang sudah cukup dewasa sudah mulai tumbuh dengan baik. Bahkan ia kerap kali berlatih pidato supaya kelak bisa menjadi pemimpin yang benar-benar diharapkan masyarakat indonesia. Ia aktif dalam kegiatan politik yang menentang kolonialisme yang mengsengsarakan rakyat indonesia. Ia mendirikan partai nasional indonesia.
Pada saat di Bandung Soekarno ditangkap dan dibuang di Ende. Oleh karena Soekarno terserang penyakit malaria. Akhirnya Soekarno di pindahkan ke Bengkulu. Soekarno mempunyai istri yang setia menemani perjalanannya. Ketika di Bengkulu Soekarno mengajar di sekolah Muhammadiyah dan mulai tertarik dengan salah satu muridnya yang bernama Fatmawati. Murid yang cantik dan juga cerdas. Soekarno berkeinginan untuk memperistri Fatmawati menjadi istri kedua namun hal tersebut ditentang oleh Inggit. Inggit lebih memilih diceraikan daripada harus dimadu. Pada tahun 1941 Indonesia terjadi perang. Balik papan dan Papua saat itu sudah dikuasai. Sehingga Soekarno dan Inggit terpaksa harus diasingkan.
Saat itu tahun 1942 jepang masuk ke indonesia membebaskan dari jajahan belanda. Dan jepang mendekati soekarno dengan propaganda 3A. Kerena tidak berhasil merebut hati rakyat indonesia maka jepang membentuk PETA dan mengaku sebagai saudara Asia. Hal itu dibuktikan dengan memberikan stok beras kepada rakyat Indonesia. Soekarno dikembalikan ke Jakarta dengan diantar oleh jepang. Di Jakarta Soekarno bertemu dengan Muhammad Hatta dan Syahrir. Dan tergabung dalam satu diskusi melawan pemerintahan jepang. Tahun 1943 Soekarno memutuskan untuk bercerai dengan Inggit, sekaligus menikah dengan Fatmawati dan mempunyai anak yang bernama Guntur.
Tanggal 8 september 1944, bendara merah putih diijinkan berkibar dengan syarat pengibaran di samping bendara jepang dan boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya di samping lagu kebangsaan jepang. Namun hal tersebut hanya berlaku di wilayah Jawa.  Jepang berjanji akan memberikan hadiah berupa kemerdekaan kepada Indonesia. Namun rakyat indonesia menolak. Mendengar jepang di bom oleh Hirosima dan Nagasaki, Syahrir dan golongan muda  bersikeras untuk cepat memerdekakan indonesia. Namun hal tersebut berlainan dengan Soekarno dan Hatta yang lebih memilih untuk mendapatkan kemerdekaan secara prosedur sekalipun oleh pemerintahan jepang. Hal tersebut memberikan kemarahan golongan muda dan akhirnya menculik Soekarno dan Hatta dengan tujuan agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Dalam hal yang genting Soekarno dan Hatta mengadakan rapat dan munculah usulan dasar negara yaitu Pancasila yang diusulkkan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945.
Dan akhirnya setelah perjalanan panjang hal tersebut menuai hasil. Tanggal 17 agustus 1945 semua rakyat berkumpul dan naskah proklamasi dibacakan dengan sangat lantang dan bendera merah putih buatan Fatmawati dikibarkan. Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke bersorak bersukacita mendengar bangsa kelahiran bangsa tanah air lepas dari belenggu penjajah. Dalam film Soekarno. Hanung hampir menceritakan secara detail sosok pahlawan bangsa yaitu Soekarno. Hanung tidak hanya memperlihatkan kebaikan, kesempurnaan Soekarno. Namun juga kejelekan dan ketidaksempurnaan Soekarno. Seperti Soekarno yang terpikat dengan Fatmawati dan menikahinya dengan menceraikan Inggit.

TEATER



                                     MENGANCAM KENANGAN

Teater yang disuguhkan oleh teater Tikar ,Kamis, 8 Oktober 2015 membantu memeriahkan Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober. Teater tikar ini disambut hangat oleh para penonton  di Gedung Pusat lantai 7 IKIP PGRI Semarang. Teater drama dengan judul “Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara seolah-olah mengajarkan kepada para penonton untuk menghadapi kenangan yang hadir setiap saat dalam kehidupan kita.
Desain panggung yang begitu elegan, dengan menghadirkan beberapa setting seperti kamar mandi dan ruang tamu, telah membantu menciptakan suasana . Begitu  juga dengan debu dan pigura yang telah membantu menghidupkan suasana bak nyata adanya. Mereka berusaha untuk memberikan pementasan terbaik kepada para penonton.
Pementasan drama dengan desain panggung yang  di lilit benang-benang menghiasi panggung seperti keadaan yang mengerikan. Dan juga make up para pemeran yang begitu antusias dengan mata dihias hitam pada bagian pinggirnya dan juga gerakan gerakan yang kaku seperti memerankan adegan yang mengerikan layaknya film hantu. Sehingga para penonton terhipnotis dengan adegan-adegan yang terjadi. Para penoton berfikir bahwa kenangan merupakan hal yang sangat  mengerikan.
Jika pada umumnya kita selalu berdamai dengan kenangan, kali ini sutradara mengajak kita untuk mengancam kenangan, agar kita dapat memosisikan kenangan-kenangan tersebut secara tepat. Hal ini dirasa benar karena kita tidak seharusnya dikendalikan oleh kenangan,namun kitalah sebagai pemegang kenangan dan yang berhak mengendalikan. Manusia  yang hebat adalah manusia yang  mampu mengendalikan diri baik nafsu maupun kenangan sekalipun. Teater drama dengan lima pemeran diantaranya 3 orang laki-laki dan 2 perempuan berhasil memerankan dengan maksimal. Para pemeran seolah-olah memberitahu penonton bahwa kenangan tidak hanya milik manusia, tetapi seluruh makhluk hidup bahkan benda mati sekalipun. Kali ini debu, pigura, dan bak mandi memiliki kenangan sebagai saksi hidup manusia dalam pementasan teater drama ini.
Setiap orang mempunyai kenangan dan bagaimana seseorang menghadapi kenangan tersebut .”Biarkan saja rindu ini menggunung, lalu kau dapat mendakinya hingga awan dan meretaskan hujan keresahan”. Kenangan itu tidak dapat hilang maka biarlah berjalan lurus hingga tiba pada puncaknya untuk siap ditinggalkan. Terkadang memang seperti itu,ketika kita berusaha untuk melupakan justru akan terasa sulit dan bahkan menambah kepedihan.
Tepuk tangan yang meriah juga terdengar dari salah satu pemeran yang ternyata tidak hanya jago dalam bermain peran tetapi juga mempunyai suara emas dalam bernyanyi. Namun kebanyakan dari penonton terdiam mendengarkan halunan nyanyian yang terdengar menyedihkan dan menyayat luka. Suara bacaan puisi juga memberi kesan tersendiri dalam jalannya acara.
Dalam cerita ini kita benar-benar dibukakan mata bahwa kenangan tak bisa terhenti meski kita menyembunyikan sedalam mungkin, menutupi serapat mungkin, namun ia akan tetap hadir dimanapun ia berada. Sesuka yang ia mau.” Semua bermula namun tidak pernah tahu kapan akhirnya”. Ya begitulah kenangan. Selalu membayangi dalam segala aktivitas hidup. Mau tidak mau. Sadar tidak sadar. Kita tidak akan tahu kapan kanangan itu dapat berhenti membayangi dan tidak tahu cara untuk menghentikannya.
Kisah mengancam kenangan ini layaknya seperti cerita dongeng. Semua tergambar layaknya seperti makhluk hidup. Padahal pada kanyataanya benda-benda yang dia anggap hidup tersebut tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan apa-apa yang telah menyentuhnya. Debu memang selalu ada dalam kehidupan kita. Selalu menempel tanpa kita meminta dan pergi jika kita telah mengusirnya. Namun meskipun begitu ia tetap tahu apa yang kita lakukan apa yang kita perbuat. Meskipun hanya benda mati yang tak juga mempunyai mata. Yang hanya bisa menjadi saksi bisu dengan apa yang kita lakukan di dunia. Banyak penonton yang sulit memahami awal dari cerita tersebut. Ketika debu-debu tersebut diperagakan layaknya manusia. Sungguh tak menyangka ketika diujung acara bahwa manusia-manusia itu adalah debu yang membantu nyonya untuk mengingat-ingat kenangan dalam hidupnya. Ketika di ujung acara sutradara menceritakan kembali. Sungguh kebanyakan dari kita baru menyadarinya. Sungguh sutradar telah berhasil membuat para penonton berpikir keras untuk bagaimana menangkap jalannya cerita dengan benar.
 Dalam cerita ini juga menceritakan bahwa seorang ibu yang tidak terbuka dengan anak-anaknya. Seorang ibu yang hanya menyembunyikan kesedihannya. Mengadu pada pagi dan menumpakan tangisnya pada malam yang itu tentu akan sia-sia, karena tidak ada solusi yang bisa menenangkan. Mengapa dengan anak pun tidak dapat mengatakannya? Padahal, bukankah menyembunyikan hanya akan menambahi beban jiwa? kita tentu sebagai manusia tidak bisa seperti itu,apalagi seorang wanita. Pada hakikatnya seorang wanita dikatakan normal apabila berbicara melebihi lebih dari ratusan kata setiap harinya.
Apakah dalam kehidupan nyata penonton juga seperti itu ? Bukankah itu hanya akan menjadi sesuatu yang menyedihkan ? Mengapa tidak kita ceritakan pada orang yang kita percaya yang dapat memberi solusi. Mengapa tidak mencoba mencari jalan terbaik untuk tidak selalu mengingat kenangan yang itu hanya akan menyakitkan. Kenangan memang tak seharusnya kita lupakan. Tapi kita harus dapat memilih kenangan mana yang pantas untuk kita abadikan dan kenangan mana yang seharusnya untuk kita buang . Kenangan yang ketika kita mengingatnya akan membawa kebahagiakan tersendiri, kepuasan dan ketenangan pikiran. Bukan kenangan yang ketika kita mengingatnya justru membawa kehancuran diri, keresahan hati, dan bahkan merusak alat indra kita. Mata yang seharusnya digunakan untuk melihat kenyataan hanya dapat melihat bayangan, hidung yang digunakan untuk penciuman hanya digunakan untuk mencium aroma kenangan. Dan begitulah kenangan membuat kita semakin buruk jika itu memang kenangan yang memang tak pantas untuk dikenang.
Masih teringat jelas bahwa penonton menjerit histeris saat seorang laki-laki tega membunuh kekasih. Orang yang dicintai. Memilih mengancam kenangan dengan cara yang ia mau adalah cara terbaik baginya. Membuang, menyingkirkan mungkin baginya bisa melupakan segalanya ? Namun, tidakkah ia sadar bahwa itu hanya akan menghabiskan tenaga waktu dan pikiran ? Seperti bacaan di atas bahwa ia tega membunuh bayangan kekasihnya dengan menggunakan pisau dan melakukannya berulang-ulang.
Sepertinya sutradara berhasil membuat cerita “Mengancam Kenangan” menjadi cerita yang memberikan kita gambaran bahwa kita harus melawan bahkan mengancam kenangan ,sehingga kita dapat memposisikan kenangan tersebut dengan benar. Ya dan harus karena kitalah sebagai manusia yang berhak melakukannya.