MAWAS DIRI MENAKAR BERANI
Pertunjukan
Wayang Kampung Sebelah dengan dalang Ki Slideng Suparman digelar di gedung
Balairung pada tanggal 20 Oktober 2015. Pertunjukan dibuka dengan sambutan dari
ketua YPLP dan Rektor UPGRIS. Diawali dengan burung garuda
yang berterbangan membuka pertunjukan wayang digedung Balairung dengan sangat meriah.
Dilanjutkan dengan goyang seorang yang
bernama catdul di iringi musik yang
membuat ruangan balairung menjadi berbahagia.
Desa balungjiwo sedang beramai dengan kampanye pemilihan lurah. Salah satu calon lurah yaitu Pak klungsur berumur 49, putra daerah Bangunjiwo. Pidato yang di sampaikan
kepada para rakyat saat
berkampanye sangat membara dan menjanjikan untuk menjadi lurah. Dengan misi membangun desa menjadi desa yang smart dan sejahtera. Pemilihan yang dilakukan dengan cara pemilu
mengharapkan muncul seorang pemimpin yang diharapkan masyarakat dan dipercaya
dapat membangun masyarakat. Penghitungan dengan menggunakan blabak(papan tulis). Namun ternyata blabaknya hilang, sehingga hansip yang bertugas menjaga keamanan
ditegur dan dimarahi. Hansip tidak terima
dikatakan tidak bertanggungjawab karena dia sudah merasa menjadi hansip yang bertanggungjawab dan menjalankan tugas dengan benar. Sehingga terjadi
perselisihan diantara mereka. Saat kejadian tersebut datanglah seorang hansip
lain yang ternyata mengaku membawa blabak tersebut dengan maksut menyimpan agar
tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam hal ini dapat kita ambil pembelajaran bahwa kita tidak boleh
memfitnah meskipun yang melakukan orang tua kepada yang lebih muda, atau orang yang mempunyai jabatan tinggi kepada
yang lebih rendah. Demokrasi tidak untuk di hitung tapi di dengarkan salah seorang berbicara. Kemudian hansip memberikan hasil
penghitungan kepada ketua panitia, dan
pemenangya adalah yang mempunyai gambar atau lambang iwak koyor dengan skor pemilu 700 suara atas nama bapak somad.
Ketua panitia memberikan ucapan terimakasih sekaligus menandatangani pada
berita acara bahwa pemenang pemilu dan yang
berhak menjadi pemilu adalah pak somad dari hasil penghitungan suara. Atas kemenangannya pak somad memberikan bonus kepada para tim yang telah membantu mensukseskan pemilu. Pak somad
memberi bonus 30 juta, kemudian Sebesar 30 juta diberikan kepada bawahannya lagi dengan mengucapkan
hanya diberikan senilai 3 juta dan
mengatakan kepada bawahannya lagi hanya diberikan 300 ribu rupiah. Memang seperti
inilah kehidupan
politik saat ini. Meskipun ada yang baik itu hanya berapa persen dari sekian
persen. Sehingga kita sebagai rakyat harus benar-benar jeli dalam memilih calon
pemimpin yang baik, jangan dilihat dari nyeketewuni
tapi lihatlah dari kredibilitasnya.
Dunia merupakan kisah sandiwara bagi para manusia. Fakir miskin di pelihara
oleh negara supaya tetap lestari.
Makanya kita ini sudah keliru dalam memilih pemimpin yang tidak
berdasarkan pada pancasila. Sejuta manusia tidak hafal
pancasila tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah seorang pemimpin yang tidak bisa mengerti arti
pancasila. Oleh
karena itu dibulan bahasa kita merayakan bersama-sama
dan memeriahkannya. Sehingga benar-benar dapat menjadi manusia yang unggul berkarakter dan berjatidiri.
Bapak somad selaku ketua lurah menggelar tasyakuran dari artis lokal maupun
intern lokal dengan artis yang pertama bongkomari mari menyanyikan lagu
sahabat. Di lanjutkan dengan lagu kedua oleh syahmarni dengan judul pusing pala
barbie yang sepertinya benar2 berhasil membuat para penonton pusing 7 keliling
dengan goyanganya yang aduhai.
Selanjutnya artis luar negeri bobmarna dari
purbalingga dengan judul syaidan. Dan
lagu selanjutanya dari minul dara tinggi dengan judul liku-liku. Kesemuanya
lagu yang dinyanyikan dari para artis
lokal maupun inter lokal membuat para penonton terhibur. Membuat hati yang galau menjadi terobati.
Bapak Somad dicopot dari jabatannya sebagai lurah, karena dianggap belum bisa melaksanakan amanat
rakyat. Belum bisa menjadi pejabat yang
diharapkan dan sudah banyak melakukan kecurangan serta tidak dapat menjaga amanat rakyat. Contoh kesalahan bapak somad selain melakukan suap
menyuap juga tidak dapat mengendalikan tawuran masyarakat.
Tawur masyarakat tidak hanya dilakukan dengan cara pidato namun juga menggunakan cara yang tegas dan keras sehingga masyarakat
menjadi jeli. Selain itu juga perlu penanaman
nilai agama. Sehingga agama tidak boleh ikutserta dalam hal politik.
Jika agama yang dianggap suci dibawa ke
ranah politk. Lalu siapa yang akan mensucikan kalau agama saja dibawa ke hal yang kotor ? Kita harus mawas diri, memperbaiki, merenungkan dan bangkit menjadi bangsa yang besar, tercapai cita-cita menjadi Indonesia emas. Sebab jika tidak segera sadar maka jangan tunggu lama,
besok atau 5
tahun yang akan datang Indonesia akan bubar