Minggu, 25 Desember 2016

ULASAN WAYANG KAMPUNG SEBELAH



MAWAS DIRI MENAKAR BERANI


Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dengan dalang Ki Slideng Suparman digelar di gedung Balairung pada tanggal 20 Oktober 2015. Pertunjukan dibuka dengan sambutan dari ketua YPLP dan Rektor UPGRIS.  Diawali dengan burung garuda yang berterbangan membuka pertunjukan wayang digedung Balairung dengan sangat meriah. Dilanjutkan dengan goyang seorang yang bernama catdul di iringi musik yang membuat ruangan balairung menjadi berbahagia.
Desa balungjiwo sedang beramai dengan kampanye pemilihan lurah. Salah satu calon lurah yaitu Pak klungsur berumur 49, putra daerah Bangunjiwo. Pidato yang di sampaikan kepada para rakyat saat berkampanye sangat membara dan menjanjikan untuk menjadi lurah. Dengan misi membangun desa menjadi desa yang smart dan sejahtera. Pemilihan yang dilakukan dengan cara pemilu mengharapkan muncul seorang pemimpin yang diharapkan masyarakat dan dipercaya dapat membangun masyarakat. Penghitungan dengan menggunakan blabak(papan tulis). Namun ternyata blabaknya hilang, sehingga hansip yang bertugas menjaga keamanan ditegur dan dimarahi. Hansip  tidak terima dikatakan tidak bertanggungjawab karena dia sudah merasa menjadi hansip  yang bertanggungjawab dan menjalankan tugas dengan benar. Sehingga terjadi perselisihan diantara mereka. Saat kejadian tersebut datanglah seorang hansip lain yang ternyata mengaku membawa blabak tersebut dengan maksut menyimpan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam hal ini dapat kita ambil pembelajaran bahwa kita tidak boleh memfitnah meskipun yang melakukan orang tua kepada yang lebih muda, atau orang yang mempunyai jabatan tinggi kepada yang lebih rendah. Demokrasi tidak untuk di hitung tapi di dengarkan salah seorang berbicara. Kemudian hansip memberikan hasil penghitungan kepada ketua panitia, dan pemenangya adalah yang mempunyai gambar atau lambang iwak koyor dengan skor pemilu 700  suara  atas nama bapak somad.
Ketua panitia memberikan ucapan terimakasih sekaligus menandatangani pada berita acara bahwa pemenang pemilu dan yang berhak menjadi pemilu adalah pak somad dari hasil penghitungan suara.  Atas kemenangannya pak somad memberikan bonus kepada para tim yang telah membantu mensukseskan pemilu. Pak somad memberi bonus 30 juta, kemudian Sebesar 30 juta diberikan kepada bawahannya lagi dengan mengucapkan hanya diberikan senilai 3 juta dan mengatakan kepada bawahannya lagi hanya diberikan 300 ribu rupiah. Memang seperti inilah kehidupan politik saat ini. Meskipun ada yang baik itu hanya berapa persen dari sekian persen. Sehingga kita sebagai rakyat harus benar-benar jeli dalam memilih calon pemimpin yang baik, jangan dilihat dari nyeketewuni tapi lihatlah dari kredibilitasnya.
Dunia merupakan kisah sandiwara bagi para manusia. Fakir miskin di pelihara oleh negara supaya tetap lestari.  Makanya kita ini sudah keliru dalam memilih pemimpin yang tidak berdasarkan pada pancasila. Sejuta manusia tidak hafal pancasila tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah seorang pemimpin yang tidak bisa mengerti arti  pancasila. Oleh karena itu dibulan bahasa kita merayakan bersama-sama dan memeriahkannya. Sehingga benar-benar dapat menjadi manusia yang unggul berkarakter dan berjatidiri.
Bapak somad selaku ketua lurah menggelar tasyakuran dari artis lokal maupun intern lokal dengan artis yang pertama bongkomari mari menyanyikan lagu sahabat. Di lanjutkan dengan lagu kedua oleh syahmarni dengan judul pusing pala barbie yang sepertinya benar2 berhasil membuat para penonton pusing 7 keliling dengan goyanganya yang aduhai.  Selanjutnya artis luar negeri bobmarna dari purbalingga dengan judul syaidan.  Dan lagu selanjutanya dari minul dara tinggi dengan judul liku-liku. Kesemuanya lagu yang dinyanyikan dari para artis lokal maupun inter lokal membuat para penonton terhibur. Membuat hati yang galau menjadi terobati.
Bapak Somad dicopot dari jabatannya sebagai lurah, karena dianggap belum bisa melaksanakan amanat rakyat. Belum bisa menjadi pejabat yang diharapkan dan sudah banyak melakukan kecurangan serta tidak dapat menjaga amanat rakyat. Contoh kesalahan bapak somad selain melakukan suap menyuap juga tidak dapat mengendalikan tawuran masyarakat. Tawur masyarakat tidak hanya dilakukan dengan cara pidato namun juga menggunakan cara yang tegas dan keras sehingga masyarakat menjadi jeli. Selain itu juga perlu penanaman nilai agama. Sehingga agama tidak boleh ikutserta dalam hal politik. Jika agama yang dianggap suci dibawa ke ranah politk. Lalu siapa yang akan mensucikan kalau agama saja dibawa ke hal yang kotor ? Kita harus mawas diri, memperbaiki, merenungkan dan bangkit menjadi bangsa yang besar, tercapai cita-cita menjadi Indonesia emas. Sebab jika tidak segera sadar maka jangan tunggu lama, besok atau 5 tahun yang akan datang Indonesia akan bubar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar