Minggu, 25 Desember 2016

TEATER



                                         MENGANCAM KENANGAN


Teater drama yang disuguhkan oleh teater Tikar ,Kamis, 8 Oktober 2015 membantu memeriahkan Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober. Teater tikar ini disambut hangat oleh para penonton  di Gedung Pusat lantai 7 IKIP PGRI Semarang. Teater drama dengan judul “Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara seolah-olah mengajarkan kepada para penonton untuk menghadapi kenangan yang hadir setiap saat dalam kehidupan kita.
Desain panggung yang begitu elegan, dengan menghadirkan beberapa setting seperti kamar mandi dan ruang tamu, telah membantu menciptakan suasana . Begitu  juga dengan debu dan pigura yang telah membantu menghidupkan suasana bak nyata adanya. Mereka berusaha untuk memberikan pementasan terbaik kepada para penonton.
Pementasan drama dengan desain panggung yang  di lilit benang-benang menghiasi panggung seperti keadaan yang mengerikan. Dan juga make up para pemeran yang begitu antusias dengan mata dihias hitam pada bagian pinggirnya dan juga gerakan gerakan yang kaku seperti memerankan adegan yang mengerikan layaknya film hantu. Sehingga para penonton terhipnotis dengan adegan-adegan yang terjadi. Para penoton berfikir bahwa kenangan merupakan hal yang sangat  mengerikan.
Jika pada umumnya kita selalu berdamai dengan kenangan, kali ini sutradara mengajak kita untuk mengancam kenangan, agar kita dapat memosisikan kenangan-kenangan tersebut secara tepat. Hal ini dirasa benar karena kita tidak seharusnya dikendalikan oleh kenangan,namun kitalah sebagai pemegang kenangan dan yang berhak mengendalikan. Manusia  yang hebat adalah manusia yang  mampu mengendalikan diri baik nafsu maupun kenangan sekalipun. Teater drama dengan lima pemeran diantaranya 3 orang laki-laki dan 2 perempuan berhasil memerankan dengan maksimal. Para pemeran seolah-olah memberitahu penonton bahwa kenangan tidak hanya milik manusia, tetapi seluruh makhluk hidup bahkan benda mati sekalipun. Kali ini debu, pigura, dan bak mandi memiliki kenangan sebagai saksi hidup manusia dalam pementasan teater drama ini.
Setiap orang mempunyai kenangan dan bagaimana seseorang menghadapi kenangan tersebut .”Biarkan saja rindu ini menggunung, lalu kau dapat mendakinya hingga awan dan meretaskan hujan keresahan”. Kenangan itu tidak dapat hilang maka biarlah berjalan lurus hingga tiba pada puncaknya untuk siap ditinggalkan. Terkadang memang seperti itu,ketika kita berusaha untuk melupakan justru akan terasa sulit dan bahkan menambah kepedihan.
Tepuk tangan yang meriah juga terdengar dari salah satu pemeran yang ternyata tidak hanya jago dalam bermain peran tetapi juga mempunyai suara emas dalam bernyanyi. Namun kebanyakan dari penonton terdiam mendengarkan halunan nyanyian yang terdengar menyedihkan dan menyayat luka. Suara bacaan puisi juga memberi kesan tersendiri dalam jalannya acara.
Dalam cerita ini kita benar-benar dibukakan mata bahwa kenangan tak bisa terhenti meski kita menyembunyikan sedalam mungkin, menutupi serapat mungkin, namun ia akan tetap hadir dimanapun ia berada. Sesuka yang ia mau.” Semua bermula namun tidak pernah tahu kapan akhirnya”. Ya begitulah kenangan. Selalu membayangi dalam segala aktivitas hidup. Mau tidak mau. Sadar tidak sadar. Kita tidak akan tahu kapan kanangan itu dapat berhenti membayangi dan tidak tahu cara untuk menghentikannya.
Kisah mengancam kenangan ini layaknya seperti cerita dongeng. Semua tergambar layaknya seperti makhluk hidup. Padahal pada kanyataanya benda-benda yang dia anggap hidup tersebut tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan apa-apa yang telah menyentuhnya. Debu memang selalu ada dalam kehidupan kita. Selalu menempel tanpa kita meminta dan pergi jika kita telah mengusirnya. Namun meskipun begitu ia tetap tahu apa yang kita lakukan apa yang kita perbuat. Meskipun hanya benda mati yang tak juga mempunyai mata. Yang hanya bisa menjadi saksi bisu dengan apa yang kita lakukan di dunia. Banyak penonton yang sulit memahami awal dari cerita tersebut. Ketika debu-debu tersebut diperagakan layaknya manusia. Sungguh tak menyangka ketika diujung acara bahwa manusia-manusia itu adalah debu yang membantu nyonya untuk mengingat-ingat kenangan dalam hidupnya. Ketika di ujung acara sutradara menceritakan kembali. Sungguh kebanyakan dari kita baru menyadarinya. Sungguh sutradar telah berhasil membuat para penonton berpikir keras untuk bagaimana menangkap jalannya cerita dengan benar.
 Dalam cerita ini juga menceritakan bahwa seorang ibu yang tidak terbuka dengan anak-anaknya. Seorang ibu yang hanya menyembunyikan kesedihannya. Mengadu pada pagi dan menumpakan tangisnya pada malam yang itu tentu akan sia-sia, karena tidak ada solusi yang bisa menenangkan. Mengapa dengan anak pun tidak dapat mengatakannya? Padahal, bukankah menyembunyikan hanya akan menambahi beban jiwa? kita tentu sebagai manusia tidak bisa seperti itu,apalagi seorang wanita. Pada hakikatnya seorang wanita dikatakan normal apabila berbicara melebihi lebih dari ratusan kata setiap harinya.
Apakah dalam kehidupan nyata penonton juga seperti itu ? Bukankah itu hanya akan menjadi sesuatu yang menyedihkan ? Mengapa tidak kita ceritakan pada orang yang kita percaya yang dapat memberi solusi. Mengapa tidak mencoba mencari jalan terbaik untuk tidak selalu mengingat kenangan yang itu hanya akan menyakitkan. Kenangan memang tak seharusnya kita lupakan. Tapi kita harus dapat memilih kenangan mana yang pantas untuk kita abadikan dan kenangan mana yang seharusnya untuk kita buang . Kenangan yang ketika kita mengingatnya akan membawa kebahagiakan tersendiri, kepuasan dan ketenangan pikiran. Bukan kenangan yang ketika kita mengingatnya justru membawa kehancuran diri, keresahan hati, dan bahkan merusak alat indra kita. Mata yang seharusnya digunakan untuk melihat kenyataan hanya dapat melihat bayangan, hidung yang digunakan untuk penciuman hanya digunakan untuk mencium aroma kenangan. Dan begitulah kenangan membuat kita semakin buruk jika itu memang kenangan yang memang tak pantas untuk dikenang.
Masih teringat jelas bahwa penonton menjerit histeris saat seorang laki-laki tega membunuh kekasih. Orang yang dicintai. Memilih mengancam kenangan dengan cara yang ia mau adalah cara terbaik baginya. Membuang, menyingkirkan mungkin baginya bisa melupakan segalanya ? Namun, tidakkah ia sadar bahwa itu hanya akan menghabiskan tenaga waktu dan pikiran ? Seperti bacaan di atas bahwa ia tega membunuh bayangan kekasihnya dengan menggunakan pisau dan melakukannya berulang-ulang.
Sepertinya sutradara berhasil membuat cerita “Mengancam Kenangan” menjadi cerita yang memberikan kita gambaran bahwa kita harus melawan bahkan mengancam kenangan ,sehingga kita dapat memposisikan kenangan tersebut dengan benar. Ya dan harus karena kitalah sebagai manusia yang berhak melakukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar