GELIAT LAKON PUISI MBELING
Universitas PGRI
Semarang menghadirkan lakon-lakon sastra dalam rangka perayaaan HUT ke-18 Forum
wartawan pemprov & DPRD Jateng (FWPJT) dan 35 tahun UPGRIS. Kegiatan
tersebut dimeriahkan dengan pementasan Puisi Mbeling oleh Remy Sylado, Gusmus,
dan Joko Pinurbo. Acara dilaksanakan pada Sabtu, 4 Juni 2016, pukul 19.30 WIB
di Balairung Universitas PGRI semarang.
Selain
lakon-lakon sastra Puisi Mbeling hadir
juga ketua DPRD Jateng, Walikota Semarang, Bupati Jateng dan para penikmat
sastra lainnya juga turut serta melengkapi malam Puisi Mbeling. Kegiatan dibuka
dengan pementasan grub rebana dari Universitas PGRI semarang. Penari sekaligus
penyanyi dari grub rebana berhasil membius para penonton untuk menyaksikan
dengan sangat hikmat. Selain itu hadir juga pengamen yang mampu menggetarkan
suasana Gedung Balairung dengan syair-syair yang begitu kocak didengar. Ribuan
penonton saling bersorak-sorai, lagu-lagu yang didengar sangat menggelikan
hingga melepas tawa ribuan penonton.
“Pementasan
malam Puisi Mbeling tidak setiap tahun ada. Ini merupakan kesempatan emas bagi
para penikmat sastra untuk bertemu sekaligus menyaksikan lakon-lakon “Puisi
Mbeling” berpuisi” ujarWidyanuri Eko Putra. Mantan ketua Kajian Ilmu Apresiasi
Sastra (KIAS) tersebut mencoba untuk memotivasi anggota KIAS untuk tidak
menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Satu per satu
pementasan puisi mbeling ikut dimeriahkan oleh Ben Mintosih, Dewi Susilo
Budiharjo, waki ketua DPR RI,Ketua DPRD Jateng, dan masih banyak lagi. Mereka membacakan
puisi mbeling dengan sangat antusias pada peringatan hari ulang tahun FWPJT dan
UPGRIS. Tidak mau kalah Romo Budi dengan Saxophonenya berhasil menggerakan
tepukan ribuan penonton tatkala mendengar suara merdu saxophonenya.
Malam semakin larut, namun itulah saat yang ditunggu-tunggu oleh para
penonton. Pembacaan puisi oleh ketiga lakon sastra. GUSMUS sastrawan sekaligus
kyai asal Rembang ini berhasil menarik perhatian penonton. Remi Silado dengan
balutan kain berwarna putih tampak bersemangat dalam membacakan puisi. Pencetus
Puisi Mbeling ini mendapatkan tepuk tangan sangat meriah dari penonton setelah
membacakan beberapa puisi ciptaannya. Berbeda dengan Joko Pinurbo yang mengenakan
balutan kain berwarna hitam saat menghadiri malam Puisi mbeling. Jokpin mengaku
lebih menyenangi penciptaan puisi Mbeling karena lebih bebas dalam
mengekspresikan sastra tanpa memikirkan sebuah aturan.
“puisi mbeling diciptakan untuk melawan penyelewangan-penyelewengan pada
masa orde baru dengan pelesetan kata-kata yang diungkapkan secara sastra” tutur
Jokpin.
Acara ditutup
setelah pembacaan puisi mbeling oleh ketika lakon
“Puisi Mbeling”. Penonton tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil
foto dengan para lakon-lakon satra dan meminta tanda-tangan. Ada juga pembagian buku karangan Remy Silado dan Jokpin
yang dibagikan secara cuma-cuma. Semoga kegiatan tersebut dapat
meningkatkan jiwa kita untuk terus berkarya dan menghargai sastra dalam membangun jiwa seni bangsa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar