Minggu, 25 Desember 2016

LIPUTAN



GELIAT LAKON PUISI MBELING



Universitas PGRI Semarang menghadirkan lakon-lakon sastra dalam rangka perayaaan HUT ke-18 Forum wartawan pemprov & DPRD Jateng (FWPJT) dan 35 tahun UPGRIS. Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan pementasan Puisi Mbeling oleh Remy Sylado, Gusmus, dan Joko Pinurbo. Acara dilaksanakan pada Sabtu, 4 Juni 2016, pukul 19.30 WIB di Balairung Universitas PGRI semarang.
Selain lakon-lakon sastra  Puisi Mbeling hadir juga ketua DPRD Jateng, Walikota Semarang, Bupati Jateng dan para penikmat sastra lainnya juga turut serta melengkapi malam Puisi Mbeling. Kegiatan dibuka dengan pementasan grub rebana dari Universitas PGRI semarang. Penari sekaligus penyanyi dari grub rebana berhasil membius para penonton untuk menyaksikan dengan sangat hikmat. Selain itu hadir juga pengamen yang mampu menggetarkan suasana Gedung Balairung dengan syair-syair yang begitu kocak didengar. Ribuan penonton saling bersorak-sorai, lagu-lagu yang didengar sangat menggelikan hingga melepas tawa ribuan penonton.
“Pementasan malam Puisi Mbeling tidak setiap tahun ada. Ini merupakan kesempatan emas bagi para penikmat sastra untuk bertemu sekaligus menyaksikan lakon-lakon “Puisi Mbeling” berpuisi” ujarWidyanuri Eko Putra. Mantan ketua Kajian Ilmu Apresiasi Sastra (KIAS) tersebut mencoba untuk memotivasi anggota KIAS untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Satu per satu pementasan puisi mbeling ikut dimeriahkan oleh Ben Mintosih, Dewi Susilo Budiharjo, waki ketua DPR RI,Ketua DPRD Jateng, dan masih banyak lagi. Mereka membacakan puisi mbeling dengan sangat antusias pada peringatan hari ulang tahun FWPJT dan UPGRIS. Tidak mau kalah Romo Budi dengan Saxophonenya berhasil menggerakan tepukan ribuan penonton tatkala mendengar suara merdu saxophonenya.
Malam semakin larut, namun itulah saat yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Pembacaan puisi oleh ketiga lakon sastra. GUSMUS sastrawan sekaligus kyai asal Rembang ini berhasil menarik perhatian penonton. Remi Silado dengan balutan kain berwarna putih tampak bersemangat dalam membacakan puisi. Pencetus Puisi Mbeling ini mendapatkan tepuk tangan sangat meriah dari penonton setelah membacakan beberapa puisi ciptaannya. Berbeda dengan Joko Pinurbo yang mengenakan balutan kain berwarna hitam saat menghadiri malam Puisi mbeling. Jokpin mengaku lebih menyenangi penciptaan puisi Mbeling karena lebih bebas dalam mengekspresikan sastra tanpa memikirkan sebuah aturan.
“puisi mbeling diciptakan untuk melawan penyelewangan-penyelewengan pada masa orde baru dengan pelesetan kata-kata yang diungkapkan secara sastra” tutur Jokpin.
Acara ditutup setelah pembacaan puisi mbeling oleh ketika lakon “Puisi Mbeling”. Penonton tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto dengan para lakon-lakon satra dan meminta tanda-tangan. Ada juga pembagian buku karangan Remy Silado dan Jokpin yang dibagikan secara cuma-cuma. Semoga kegiatan tersebut dapat meningkatkan jiwa kita untuk terus berkarya dan menghargai sastra dalam membangun jiwa seni bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar