Minggu, 25 Desember 2016

CERPEN



APALAH
Sudah tak pantas lagi aku di hargai, sudah tak pantas lagi aku disanjung, sudah tak seperti dulu lagi aku yang selalu di junjung. Menjadi kembang yang tentu akan bermekaran jika saatnya tiba. Menjadi yang selalu di segani karena aku lah yang saat itu menjadi orang istimewa di desa. Beribu sanjungan menjadi cacian telah aku rasakan, jutaan kebanggaan  menjadi kebencian telah aku cicipi. Kini aku bagai tak ingin hidup lagi, mungkin pergi meninggalkan tanah kehinaan ini adalah yang terbaik. Tapi ini belum saatnya, dan aku juga tak akan tahu kapan saatnya itu tiba. Aku telah menyadari perbuatanku, aku rasa aku lebih buruk dari setan yang berkeliaran menggoda anak adam.
Penyesalan kini yang aku rasakan. Menjadi seorang gadis yang sudah berstatus tak perawan.  Aku di usir dari rumah, dan para sanak saudara tak pernah mengakui ku sebagai bagian dari aliran darah mereka. Kini aku hidup sendiri dengan sebatang tubuh yang tak terkendali.  Mengapa mereka menyalahkanku ? bukankah aku melalukan ini juga untuk mereka. Membiayai adik sekolah, menyewa kontrakan, membelikan ayah obat. Siapa lagi kalau bukan aku yang bekerja ? Siapa yang tega melihat ayah harus sakit-sakitan. Siapa yang tega melihat adik satu-satunya tiap semester harus di panggil  karena masalah tunggakan SPP.Aku tak akan pernah membiarkan adik menjadi orang sepertiku. Di anggap rendah di mata masyarakat.Jika ibu saat ini masih berada disampingku, jika saja tanah itu tak terburu-buru untuk menutupi jasadnya. Mungkin saat ini masih ada orang yang bisa mengerti dan semua ini tak akan terjadi.
Kini aku hidup sebatang tubuh di Jakarta dengan menyewa kontrakan berukuran sangat pas-pasan,hanya terdiri dari satu kamar tidur, dapur kecil serta ruang tamu yang tak kalah kecilnya. Tak masalah bagiku, hidupku sudah terbiasa dengan kesederhanaan. Yang terpenting adalah aku mendapatkan tempat tinggal dan dapat makan sudah cukup bagiku. Dengan keterbatasan pendidikan, aku kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan,sehingga aku hanya bekerja sebagai pelayan restoran. Datang pagi pulang malam, membanting tulang hanya demi gaji yang tak seberapa. Terkadang lelah dan teringat untuk melakukan pekerjaan seperti beberapa bulan lalu. Melayani para harimau kehausan, lalu mendapatkan upah yang lebih dari cukup. Tapi tidak ! aku tidak akan membuat kesalahan yang kedua kalinya. Aku tidak ingin menyakitiki ayahku dengan omongan para tetangga. Lebih baik aku menjadi seorang pelayan tetapi masih punya harga diri. Aku pasrahkan kepada-Mu Tuhan. Ampuni aku lalukan apapun yang Engkau mau.
Waktu menunjukkan pukul 11.00, aku berjalan menyusuri malam sepulang dari pekerjaanku, sepi sekali rasanya. Hanya terlihat satu dua penjual makanan di tepi jalan.. Ku coba menghampiri, karena ternyata perut ini sudah tak bisa lagi sedikit menahan rasa lapar.
Namun, ku tahan kakiku untuk tak mendekati para penjual itu. Para penjual yang disekerubungi laki-laki yang bermain catur dengan suara tawanya yang tak terkendali.
Sudah 2 bulan di Juli ini aku mengandung. Entah anak dari laki-laki mana yang kini ada di rahimku. Terlalu banyak laki-laki yang telah mencicipi tubuh nerakaku. Siapa yang mau mengakui anakku ? ku pikir tak mungkin laki-laki bajingan macam mereka bertanggungjawab ,setelah ratusan uang yang mereka beri telah aku habiskan untuk menafkahi adik dan ayahku waktu itu. Sudah sering kali aku menggugurkan bayi mungil  yang tak berdosa . Bagiku menjauhkannya dari dunia ini akan menyelamatkan hidupnya dari hitamnya kehidupan dunia. Tapi kali ini kenapa semua cara yang aku lakukan untuk menggugurkannya tak juga berhasil ? apakah Tuhan berkehendak lain. Apakah bayi ini harus ku biarkan hidup. Lalu bagaimana dengan perkataan orang tentang bayi haram yang akan keluar ini ?
Malam ini aku merasa ada kontraksi hebat yang terjadi dalam perutku. Tubuhku tiba-tiba saja menggigil, keringat dingin menetes dari sekujur tubuhku. Aku melihat ada darah berserakan di lantai. Tak ada sama sekali orang di rumah. Hanya aku sebatang tubuh ? pada siapa aku harus meminta tolong ? aku mencoba menjerit berharap ada orang mendengar dan mau menolongku. Namun suasana malam itu sangat sepi dan sunyi, ku paksa tubuhku untuk berjalan menuju pintu ruang tamu. Namun tetap tak sanggup. Berulang kali aku terjatuh, dan aku tak ingat apa yang telah terjadi saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar