APALAH
Sudah tak
pantas lagi aku di hargai, sudah tak pantas lagi aku disanjung, sudah tak
seperti dulu lagi aku yang selalu di junjung. Menjadi kembang yang tentu akan
bermekaran jika saatnya tiba. Menjadi yang selalu di segani karena aku lah yang
saat itu menjadi orang istimewa di desa. Beribu
sanjungan menjadi cacian telah aku rasakan, jutaan kebanggaan menjadi kebencian telah aku cicipi. Kini aku
bagai tak ingin hidup lagi, mungkin pergi meninggalkan tanah kehinaan ini
adalah yang terbaik. Tapi ini belum saatnya, dan aku juga tak akan tahu kapan
saatnya itu tiba. Aku telah menyadari perbuatanku, aku rasa aku lebih buruk
dari setan yang berkeliaran menggoda anak adam.
Penyesalan
kini yang aku rasakan. Menjadi seorang gadis yang sudah berstatus tak
perawan. Aku di usir dari rumah, dan
para sanak saudara tak pernah mengakui ku sebagai bagian dari aliran darah
mereka. Kini aku hidup sendiri dengan sebatang tubuh yang tak terkendali. Mengapa mereka menyalahkanku ? bukankah aku
melalukan ini juga untuk mereka. Membiayai adik sekolah, menyewa kontrakan,
membelikan ayah obat. Siapa lagi kalau bukan aku
yang bekerja ? Siapa yang tega melihat ayah harus sakit-sakitan.
Siapa yang tega melihat adik satu-satunya tiap semester harus di panggil karena masalah tunggakan
SPP.Aku tak akan pernah membiarkan adik menjadi orang sepertiku. Di anggap
rendah di mata masyarakat.Jika ibu saat ini masih berada disampingku, jika saja
tanah itu tak terburu-buru untuk menutupi jasadnya. Mungkin saat ini masih ada
orang yang bisa mengerti dan semua ini tak akan terjadi.
Kini aku hidup sebatang tubuh di Jakarta dengan menyewa kontrakan berukuran
sangat pas-pasan,hanya terdiri dari satu
kamar tidur, dapur kecil serta ruang tamu yang tak kalah kecilnya. Tak masalah
bagiku, hidupku
sudah terbiasa dengan kesederhanaan. Yang
terpenting adalah aku mendapatkan tempat tinggal dan dapat makan sudah cukup
bagiku. Dengan keterbatasan pendidikan, aku kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan,sehingga aku hanya bekerja
sebagai pelayan restoran. Datang pagi pulang malam, membanting tulang hanya
demi gaji yang tak seberapa. Terkadang lelah dan teringat untuk melakukan
pekerjaan seperti beberapa bulan lalu. Melayani para harimau kehausan, lalu mendapatkan
upah yang lebih dari cukup. Tapi tidak ! aku tidak akan membuat kesalahan yang
kedua kalinya. Aku tidak ingin menyakitiki ayahku dengan omongan para tetangga.
Lebih baik aku menjadi seorang pelayan tetapi masih punya harga diri. Aku
pasrahkan kepada-Mu Tuhan. Ampuni aku lalukan apapun yang Engkau mau.
Waktu menunjukkan pukul 11.00, aku berjalan menyusuri malam sepulang dari
pekerjaanku, sepi sekali rasanya. Hanya terlihat satu dua penjual makanan di
tepi jalan.. Ku coba menghampiri, karena ternyata perut ini sudah tak bisa lagi
sedikit menahan rasa lapar.
Namun, ku
tahan kakiku untuk tak mendekati para penjual itu. Para penjual yang
disekerubungi laki-laki yang bermain catur dengan suara tawanya yang tak
terkendali.
Sudah 2 bulan di Juli ini aku mengandung. Entah anak dari
laki-laki mana yang kini ada di rahimku. Terlalu banyak laki-laki yang telah
mencicipi tubuh nerakaku. Siapa yang mau mengakui anakku ? ku pikir tak mungkin
laki-laki bajingan macam mereka bertanggungjawab ,setelah ratusan uang yang
mereka beri telah aku habiskan untuk menafkahi adik dan ayahku waktu itu. Sudah
sering kali aku menggugurkan bayi mungil
yang tak berdosa . Bagiku menjauhkannya dari dunia ini akan
menyelamatkan hidupnya dari hitamnya kehidupan dunia. Tapi kali ini kenapa semua cara yang aku lakukan untuk menggugurkannya
tak juga berhasil ? apakah Tuhan berkehendak lain. Apakah bayi ini harus ku
biarkan hidup. Lalu bagaimana dengan perkataan orang tentang bayi haram yang
akan keluar ini ?
Malam ini
aku merasa ada kontraksi hebat yang terjadi dalam perutku. Tubuhku tiba-tiba
saja menggigil, keringat dingin menetes dari sekujur tubuhku. Aku melihat ada
darah berserakan di lantai. Tak ada sama sekali orang di rumah. Hanya aku
sebatang tubuh ? pada siapa aku harus meminta tolong ? aku mencoba menjerit
berharap ada orang mendengar dan mau menolongku. Namun suasana malam itu sangat
sepi dan sunyi, ku paksa tubuhku untuk berjalan menuju pintu ruang tamu. Namun
tetap tak sanggup. Berulang kali aku terjatuh, dan aku tak ingat apa yang telah
terjadi saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar